Senin, 06 Juli 2015

LABIRIN

lalat yang terperangkap di jendela kaca
ingin melompat menghisap bangkai yang tergolek di bawah bugenvil
rintik hujan yang semakin deras akan menyeretnya ke selokan
hari-hari  muram di antara kepingan tahun
menjadi pusaran labirin yang tak berujung pangkal
lenguh kerbau yang melintas seolah merasa
hidupnya akan segera berakhir di  pemotongan
tapi mestikah terus mengeluh
apabila nasib memang telah ditetapkan
dan kau telah bekali-kali mengulang pertanyaan yang sama

citeureup, 05 januari 2015


MEMORI 1

siang hampir tenggelam di sore hari dalam kenangan
capung-capung itu akan melepas lelah di ranting kering
pohon kelor yang meranggas pada kemarau panjang
setelah sehari penuh bermain dengan bocah kampung
yang ingin menjebaknya
dengan seoles getah nangka di ujung lidi

citeureup, 09 januari 2015

MEMORI 2

air yang tenang tergenang di ceruk galian
telah mengubahnya menjadi kolam
dia ingin melihatnya lagi bahwa di dalamnya masih ada ikan
yang mencuri ingatannya puluhan tahun silam
tapi tak didapatinya sulur-sulur ganggang ataupun lumut
yang ada hanya puing dan limbah
kebun dan sawah berubah  jadi himpitan rumah
ke mana lagi nyanyian katak hijau di sore hari
ketika burung-burung pulang ke sarang melepas penat
keramaian itu telah berubah menjadi kesunyian yang hingar
namun angan tetap lekat meski tanah berubah semakin likat

citeureup, 13 Januari 2015




MEMORI 3

pohon karet itu telah hilang tergantikan manoa
namun jejak masa lalu masih berbekas pada tebing yang landai
tatkala kaududuk pada akar  itu
gadis belia menggoda hatimu untuk yang pertama

pohon karet itu telah hilang tanpa bekas
namun getar rasanya masih terasa
ketika angin menggoyangkan batang ilalang
dan matahari mengurai khayal indah di bangku bambu
saat kau bunyikan terompet batang padi sore itu

pohon karet itu telah tiada
namun jejaknya akan selalu tersisa

citeureup, 15 januari 2015

MEMORI 4

siapa bersembunyi di balik rintik gerimis
berjalan menyusur pematang dan tanggul di pagi hari
mengurai khayal bertemu gadis berkebaya
yang terlupakan wajahnya


Sabtu, 02 Juli 2011

Antara Madu Dan Racun


Kawan,
apakah kau tahu
ada sebutir racun dalam segumpal madu
dan apakah kau tahu
ada setetes madu dalam secawan racun

Hidup ini memang misteri
hidup ini memang teka-teki
jawabnya hanyalah miliki ilahi
namun kau harus mencari dan terus mencari
jawaban dari  semua misteri
agar kau dapat meneguk madu tanpa menelan racun
agar kau tak menyentuh racun saat mengambil madu
karena madu dan racun
terkadang berada pada cawan yang sama

Citeureup, 091204

Ada Yang Mengendap Diam-diam

Ada yang mengendap diam-diam
merayapi dinding beku
ada rasa yang tertahan
terganjal halusinasi kabut waktu

Adiarsa, 230397

Dalam Pengembaraan

Dalam pengembaraan
aku berjalan begitu jauh
lelah, luluh, aku mengeluh

Ada cahaya
begitu jauh
telah lama kuburu
akankah tersentuh

Dalam pengembaraan
aku bejalan semakin jauh
jalan setapak
batu menghadang
aku terantuk rubuh

Ingin kugulingkan batu
tangan ini lemah
ingin ku lompat jauh
kaki ini patah

Tak ada tongkat
tak ada bambu
tak ada apa-apa
akur terpuruk
rubuh

Adiarsa, 050497

Bulan

Ajarkan bulan aku menguraikan sinarmu saat purnama
yang tak kumengerti namun kurasakan sapaannya
“Selamat malam! Mengapa engkau diam?”

Kita bersama, tak saling bicara
hanya hasrat
hanya hasrat menggebu
lidah ini kelu

Bulan,
ajarilah aku bicara
agar malam tak lagi bisu

Citeureup, 220900

Kata

Bukan hanya sekedar air mengalir ke lautan lepas
melewati selokan, sungai, dan muara demi muara
namun gebu ini sanggup menahan kata
menghambur lewat pintu dan jendela

Dan juga seperti air kata itu ada
membasuh kerongkongan, tubuh, dan jiwaku di saat suka ataupun duka

Citeureup, 240900

Sunyi

Sunyi ini diam menggigil di sudut kamar
sunyi ini bisu beku seperti sebongkah batu
rintihmu tersembunyi di balik diammu yang sepi

Dari balik jendela pandangmu menangkap seekor angsa
dari balik jendela kau tahu mentari akan datang lagi besok pagi
tapi mengapa sunyi ini sepi

Citeureup, 260900

Di Antara Kita

Di antara kita
ada dua kata :
aku dan kau

Lalu siapa aku
dan siapa kau

Citeureup, 211000

Benih

Kini
sedang kucari benih-benih kata
kan kutaburkan di persemaian taman puisiku
biar tumbuh bunga-bunga syair mekar bersemi
biar dunia cerah-ceria penuh warna
biar sunyi tidak lagi selalu sepi
biar kata tak hanya selalu untuk bicara
biar diri ini sedikit lebih berarti

citeureup, 140106

Di Bawah Beringin

Di bawah beringin angin sepoi
mengelus tubuh kecil bocah lelaki
dibayangkannya beberapa tahun lagi
dirinya tumbuh jadi remaja
jadi dewasa
hingga tua renta

Di bawah beringin angin sepoi
mengelus tubuh kurus lelaki tua
dibayangkannya beberapa tahun lalu
dirinya adalah seorang pria dewasa perkasa
muda remaja
hingga bocah kecil bertelanjang dada

Di bawah beringin angin sepoi
membawa khayalan bocah lelaki mengembara
ke dunia kelak yang akan dialaminya
di bawah beringin angin sepoi
membawa khayalan si tua renta
ke alam yang telah dilaluinya

citeureup, 160106

Bermain Kata

Hati-hati bermain kata
Karena kata bisa melukai hati
Berkata “yang” tidak selalu berarti sayang
Bisa bias menjadi :
“Dasar lu peang!”

Kata bisa menghibur
Tapi juga bisa mengubur
Maknanya kerap menjadi kabur

Dengan bermain kata
Orang bisa tertawa dan bahagia
Dengan bermain kata
Orang bisa terluka dan menderita
Dengan bermain kata
Yang benar bisa disalahkan
Yang salah bisa dibenarkan

Lebih baik aku diam saja
Namun bermain kata dalam puisi
Agar tidak banyak hati yang terlukai

Citeureup, 17 maret 2011

Ya, Tuhanku

Ya, Tuhanku
Inikah azab yang kautimpakan kepadaku
Karena aku telah banyak berbuat ingkar di bumimu
Melalaikan segala perintahmu
Melakukan segala laranganmu
Tak kuhiraukan kebaikan-kebaikan
Yang kusanjung kemaksiatan dan tipu daya syaitan

Ya, Tuhanku
Aku memang kerap melupakanMu
Kala aku haus untuk mereguk dunia fana ini
 Kurasa semua ini adalah hanya untukku
Aku harus mengambilnya sebanyak aku bisa
Jika tidak, aku akan banyak kehilangan
Orang lain yang akan mengambilnya
Maka tak ada wakktuku untukMu

Ya, tuhanku
Betapa nistanya aku
Yang tak sadar siapa sebenarnya aku
Untuk apa aku berpijak di bumiMu
Dunia yang kucintai tak selamanya sudi bersamaku
Di kala aku tak berdaya
Semua meninggalkanku
Kehormatan hanyalah sekedar label belaka
Setelah semua sirna ditelan bencana
Aku hanyalah sepotong sampah yang hina

Citeureup, 20 Maret 2011